keperawatansantirinjani

PEMERIKSAAN FISIK JANTUNG DAN AORTA

Posted on: December 21, 2010

PENGKAJIAN FISIK JANTUNG DAN AORTA

Proyeksi jantung pada permukaan dada :

  1. Atrium kanan.Merupakan bagian jantung yang terletak paling jauh di sisi kanan, yaitu kira-kira 2 cm di sebelah kanan tepi sternum setinggi sendi kostosternalis ke-3 sampai ke-6.
  2. Ventrikel kanan. Menempati sebagian besar proyeksi  jantung pada dinding dada. Batas bawahnya adalah garis yang menghubungkan sendi kostosternalis ke-6 dengan apeks jantung.
  3. Ventrikel kiri. Ventrikel kiri tidak begitu tampak jika  dilihat dari depan. Pada proyeksi jantung pada dada,daerah tepi kiri–atas selebar 1,5 cm, merupakan  wilayah ventrikel kiri. Batas kiri jantung adalah garis yang menghubungkan apeks jantung dengan sendi kostosternalis ke-2 sebelah kiri.
  4. Atrium kiri. Adalah bagian jantung yang letaknya paling posterior dan tidak terlihat dari depan. Kecuali sebagian kecil saja yang terletak di belakang sendi kostosternalis kiri ke-2

PEMERIKSAAN

Bagian dada yang ditempati oleh proyeksi jantung yang seperti terlukis di atas itu
dinamakan prekordium

ALAT YANG DIPERLUKAN :

–Double Lumen-Stetoskop

–Timer

PEMERIKSAAN

Pertimbangan umum :

–Pakaian atas pasien harus disiapkan dalam keadaan terbuka.

–Ruang pemeriksaan harus tenang untuk menampilkan auskultasi yang adekuat.

–Tetap selalu menjaga privacy pasien

–Prioritaskan dan perhatikan untuk tanda-tanda kegawatan.

A. Inspeksi jantung

Tanda-tanda yang diamati :

(1) bentuk prekordium

(2) Denyut pada apeks jantung

(3) Denyut nadi pada dada

(4) Denyut vena

bentuk prekordium

Pada umumnya kedua belah dada adalah simetris. Prekordium yang cekung dapat terjadi akibat perikarditis menahun, fibrosis atau atelektasis paru, scoliosis atau kifoskoliosis

Prekordium yang gembung dapat terjadi akibat dari pembesaran jantung, efusi epikardium, efusi pleura, tumor paru, tumor mediastinum

Denyut apeks jantung (iktus kordis)

–          Dalam keadaaan normal, dengan sikap duduk, tidur terlentang atau berdiri iktus terlihat didalam ruangan interkostal V sisi kiri agak medial dari linea midclavicularis sinistra

–          Pada anak-anak iktus tampak pada ruang interkostal IV

–          Sifat iktus :

  1. Pada keadaan normal, iktus hanya merupakan tonjolan kecil, yang sifatnya local. Pada pembesaran yang sangat pada bilik kiri, iktus akan meluas.
  2. Iktus hanya terjadi selama systole.Oleh karena itu, untuk  memeriksa iktus, kita adakan juga palpasi pada a. carotis comunis untuk merasakan adanya gelombang yang asalnya dari systole

Apabila di dada bagian atas terdapat denyutan maka harus curiga adanya kelainan
pada aorta

Denyutan nadi pada dada

–          Aneurisma aorta ascenden dapat menimbulkan denyutan di ruang interkostal II
kanan, sedangkan denyutan dada di daerah ruang interkostal II kiri menunjukkan adanya dilatasi a. pulmonalis dan aneurisma aorta descenden

Vena yang tampak pada dada dan punggung tidak menunjukkan denyutan

 Denyutan vena

 Vena yang menunjukkan denyutan hanyalah vena jugularis interna dan eksterna

Palpasi jantung

Urutan palpasi dalam rangka pemeriksaan

jantung adalah sebagai berikut :

–          Pemeriksaan iktus cordis

–          Pemeriksaan getaran / thrill

–          Pemeriksaan gerakan trachea

Hal yang dinilai adalah teraba tidaknya iktus, dan apabila teraba dinilai kuat angkat atau
tidak

Pemeriksaan iktus cordis

Kadang-kadang kita tidak dapat melihat, tetapi dapat meraba iktus

Pada keadaan normal iktus cordis dapat teraba pada ruang interkostal kiri V, agak ke
medial (2 cm) dari linea midklavikularis kiri.

Pemeriksaan getaran / thrill

Adanya getaran seringkali menunjukkan adanya kelainan katub bawaan atau penyakit jantung congenital.

Disini harus diperhatikan :

–          Lokalisasi dari getaran

–          Terjadinya getaran : saat systole atau diastole

–          Getaran yang lemah akan lebih mudah dipalpasi apabila orang tersebut melakukan pekerjaan fisik karena frekuensi jantung dan darah akan mengalir lebih cepat.

–          Dengan terabanya getaran maka pada auskultasi nantinya akan terdengar bising jantung

Pada pemeriksaan jantung, trachea harus juga diperhatikan karena anatomi trachea berhubungan dengan arkus aorta

 Pemeriksaan gerakan trachea

Pada aneurisma aorta denyutan aorta menjalar ke trachea dan denyutan ini dapat
teraba

Batas kiri jantung

 Kita melakukan perkusi untuk menetapkan batas-batas jantung

– Perkusi jantung

– Batas kanan jantung

Perkusi jantung mempunyai arti pada dua macam penyakit jantung yaitu efusi
pericardium dan aneurisma aorta

Batas kiri jantung

•Kita melakukan perkusi dari arah lateral ke medial.

•Perubahan antara bunyi sonor dari paru-paru ke redup relatif kita tetapkan sebagai batas   jantung kiri

•Normal

Atas : SIC II kiri di linea parastrenalis kiri (pinggang jantung)

Bawah: SIC V kiri agak ke medial linea midklavikularis kiri ( t4 iktus)

Batas kanan jantung

Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial.

Disini agak sulit menentukan batas jantung karena letaknya agak jauh dari dinding depan thorak

Normal :

–Batas bawah kanan jantung adalah di sekitar ruang interkostal III-IV kanan,di linea parasternalis kanan

–Sedangkan batas atasnya di ruang interkostal II kanan linea parasternalis kanan

Auskultasi jantung menggunakan alat stetoskop duplek, yang memiliki dua corong
yang dapat dipakai bergantian.

Auskultasi Jantung.

Corong pertama berbentuk kerucut (bell)yang sangat baik untuk mendengarkan
suara dengan frekuensi tinggi (apeks)

Corong yang kedua berbentuk lingkaran (diafragma) yang sangat baik untuk
mendengarkan bunyi dengan nada rendah

Pada auskultasi akan diperhatikan 2 hal, yaitu

  1. Bunyi jantung : Bunyi jantung I dan II

BJ I : Terjadi karena getaran menutupnya katup atrioventrikularis, yang terjadi pada saat kontraksi isometris dari bilik pada permulaan systole

BJ II : Terjadi akibat proyeksi getaran menutupnya katup aorta dan a. pulmonalis pada dinding toraks. Ini terjadi kira-kira pada permulaan diastole.

BJ II normal selalu lebih lemah daripada BJ I

2. Bising jantung / cardiac murmur

BUNYI JANTUNG I

Daerah auskultasi untuk BJ I :

–Pada iktus : katub mitralis terdengar baik disini.

–Pada ruang interkostal IV – V kanan, pada tepi sternum : katub  trikuspidalis terdengar disini

–Pada ruang interkostal III kiri, pada tepi sternum : merupakan tempat yang baik pula untuk mendengar katub mitral.

Intensitas BJ I akan bertambah pada apek pada:

–stenosis mitral

–interval PR (pada EKG) yang begitu pendek

–pada kontraksi ventrikel yang kuat dan aliran darah yang cepat misalnya pada kerja fisik, emosi, anemia, demam dll.

Intensitas BJ I melemah pada apeks pada :

–shock hebat

–interval PR yang memanjang

–decompensasi hebat.

BUNYI JANTUNG II

Intensitas BJ II aorta akan bertambah pada :

–hipertensi

–arterisklerosis aorta yang sangat.

Intensitas BJ II pulmonal bertambah pada :

–kenaikan desakan a. pulmonalis, misalnya pada : kelemahan bilik

kiri, stenosis mitralis, cor pulmonal kronik, kelainan cor congenital

BJ I dan II akan melemah pada :

–orang yang gemuk

–emfisema paru-paru

–perikarditis eksudatif

–penyakit-penyakit yang menyebabkan kelemahan otot jantung

BISING JANTUNG

• Apakah bising terdapat antara BJ I dan BJ II(=bis in g systole), ataukah bising terdapat antara BJ II dan BJ I (=bising diastole). Cara termudah untuk menentukan
bising systole atau diastole ialah dengan membandingkan terdengarnya bising dengan saat terabanya iktus atau pulsasi a. carotis, maka bising itu adalah bising systole.

• Tentukan lokasi bising yang terkeras.

• Tentukan arah dan sampai mana bising itu dijalarkan.

Bising itu dijalarkan ke semua arah tetapi tulang merupakan penjalar bising yang baik, dan bising yang keras akan dijalarkan lebih dulu.

BISING JANTUNG

 Perhatikan derajat intensitas bising tersebut, Ada 6 derajat bising :

(1)Bising yang paling lemah yang dapat didengar.Bising ini hanya dapat didengar dalam waktu agak lama untuk menyakinkan apakah besar-benar merupakan suara bising.

(2) Bising lemah , yang dapat kita dengar dengan segera.

(3) dan (4) adalah bising yang sedemikian rupa sehingga mempunyai intensitas diantara (2) dan (5).

(5) Bising yang sangat keras, tapi tak dapat didengar bila stetoskop  tidak diletakkan pada dinding dada.

(6) Bising yang dapat didengar walaupun tak menggunakan stetoskop.

 Perhatikan kualitas dari bising, apakah kasar, halus, bising gesek, bising yang meniup, bising yang melagu

Pada pemeriksaan pembuluh darah perifer

hal yang biasa dilakukan adalah palpasi nadi.

 PEMERIKSAAN PEMBULUH DARAH PERIFER

 Pada pemeriksaan yang rutin yang dilakukan adalah palpasi nadi dari a. radialis.

PEMERIKSAAN PEMBULUH DARAH PERIFER

Pada palpasi nadi harus diperhatikan hal-hal di bawah ini :

–          Frekuensi nadi

–          Tegangan nadi

–          Irama nadi

–          Macam denyut nadi

–          Isi nadi

–          Bandingkan nadi a. radialis ka & ki

–          Keadaan dinding arteri

PEMERIKSAAN  DADA (TORAKS)

Topik :
A.    inspeksi dinding dada

B.    palpasi dada

C.    perkusi dada

D.    auskultasi dada

Pemeriksaan dada adalah untuk mendapatkan kesan dari bentuk dan fungsi dari dada dan organ di dalamnya. Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
Pada pemeriksaan dada yang perlu diperhatikan antara lain :

1.    Posisi pasien diusahakan duduk sama tinggi dengan pemeriksa atau berbaring tergantung bagian mana yang akan diperiksa.

2.    Daerah dada yang akan diperiksa harus terbuka

3.    Usahakan keadaan pasien santai dan relaksasi untuk mengendorkan otot-otot, terutama otot pernapasan

4.    Usahakan pemeriksa untuk tidak kontak langsung dengan pernapasan pasien, untuk menghindari penularan melalui pernapasan, caranya dengan meminta pasien memalingkan muka ke arah samping

A.  INSPEKSI DINDING DADA

1.    Posisi pasien duduk sama tinggi dengan pemeriksa atau berbaring

2.    Bila pasien duduk, pemeriksaan pada dada depan, kedua tangan pasien diletakkan di paha atau pinggang. Untuk pemeriksaan bagian belakang dada, kedua lengan disilangkan didepan dada atau tangan kanan dibahu kiri dan tangan kiri dibahu kanan.

3.    Bila pasien berbaring posisi lengan pada masing- masing sisi tubuh

4.    Secara keseluruhan perhatikan bentuk dan ukuran dinding dada, deviasi, tulang iga, ruang antar iga, retraksi, pulsasi, bendungan vena dan penonjolan epigastrium.

5.    Pemeriksaan dari depan perhatikan klavikula, fossa supra/infraklavikula, lokasi iga pada kedua sisi

6.    Pemeriksaan dari belakang perhatikan vertebra servikalis 7, bentuk skapula, ujung bawah skapula setinggi v. torakalis 8  dan bentuk atau jalannya kolumna vertebralis

B.   PALPASI DADA

1.  PALPASI GERAKAN DIAFRAGMA

1.    Posisi pasien berbaring terlentang menghadap pemeriksa.

2.    Posisi lengan pasien disamping dan sejajar dengan badan.

3.    Letakan kedua telapak tangan pemeriksa dengan merenggangkan jari-jari pada dinding dada depan bagian bawah pasien.

4.    Letakkan sedemikian rupa sehingga kedua ujung ibu jari pemeriksa bertemu di ujung tulang iga depan bagian bawah.

5.    Pasien diminta bernapas dalam dan kuat

6.    Gerakan diafragma normal, bila tulang iga depan bagian bawah terangkat pada waktu inspirasi .

2.  PALPASI POSISI TULANG IGA ( KOSTA )

1.    Posisi pasien duduk atau tidur terlentang dan berhadapan dengan pemeriksa

2.    Bila duduk posisi kedua tangan  pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua tangan disamping dan sejajar dengan badan.

3.    Lakukan palpasi dengan memakai jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan
4.    Palpasilah mulai dari cekungan suprasternalis ke bawah sepanjang tulang dada
5.    Carilah bagian yang paling menonjol (angulus lodovisi) kira- kira 5 cm dibawah fossa suprasternalis yaitu sudut pertemuan antara manubrium sterni dan korpus sterni dimana ujung tulang iga kedua melekat.

6.    Dari angulus lodovisi, tentukan pula letak tulang iga pertama kearah atas/ superior dan untuk tulang iga ketiga dan seterusnya kearah bawah/ inferior.

3.  PALPASI TULANG BELAKANG ( VERTEBRA )

1.    Posisi pasien duduk dengan kedua tangan  dipaha atau dipinggang sambil menundukkan kepala dan  pemeriksa dibelakang pasien

2.    Pemeriksa melakukan palpasi dengan jari tangan kedua dan ketiga sepanjang tulang belakang bagian atas (leher bawah)

3.    Rasakanlah bagian yang paling menonjol pada leher bagian bawah, inilah yang disebut  prosesus spinosus servikalis ketujuh.( C7 )

4.    Dari prosesus servikalis spinosus ketujuh ( C7 ), kearah superior yaitu prosesus spinosus servikalis keenam dan seterusnya. Bila kearah inferior yaitu prosesus spinosus thorakalis pertama, kedua dan seterusnya.

4.   PALPASI IKTUS JANTUNG

1.    Posisi pasien duduk atau tidur terlentang dan berhadapan dengan pemeriks

2.    Bila duduk posisi kedua tangan  pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua tangan disamping dan sejajar dengan badan.
3.    Tentukan ruang antar iga ke-5 kiri yaitu ruang antara tulang iga ke-5 dan ke-6.
4.    Tentukan garis midklavikula kiri yaitu dengan menarik garis lurus yang memotong pertengahan tulang klavikula kearah inferior tubuh.
5.    Tentukan letak iktus dengan telapak tangan kanan pada dinding dada setinggi ruang antar iga ke-5 digaris midklavikula
6.    Apabila ada getaran pada telapak tangan, kemudian lepaskan telapak tangan dari dinding dada.
7.    Untuk mempertajam getaran gunakan jari ke-2 dan ke-3 tangan kanan
8.    Tentukan getaran maksimumnya, disinilah letak iktus kordis.

5.  PALPASI SENSASI RASA NYERI DADA

1.    Posisi pasien duduk atau tidur terlentang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.    Bila duduk posisi kedua tangan  pasien dipaha atau dipinggang, bila tidur terlentang posisi kedua tangan disamping dan sejajar dengan badan.
3.    Tentukan daerah asal nyeri pada dinding dada
4.    Dengan menggunakan ujung ibu jari tangan kanan tekanlah dengan perlahan tulang iga atau ruang antar iga dari luar menuju tempat asal nyeri
5.    Rasa nyeri akan bertambah akibat tekanan ibu jari, nyeri dapat disebabkan fraktur tulang iga, fibrosis otot antar iga, pleuritis local dan iritasi akar syaraf

6.   PALPASI PERNAPASAN DADA

1.    Posisi pasien duduk dengan kedua tangan  dipaha atau dipinggang berhadapan dengan pemeriksa
2.    Letakkan kedua telapak tangan pemeriksa pada dinding dada pasien sesuai posisi yaitu telapak tangan kanan pemeriksa ke dinding dada kiri pasien, sedangkan telapak kiri pemeriksa pada dinding dada kanan pasien
3.    Letakkan jari telunjuk dibawah tulang klavikula dan jari- jari lainnya disebar sedemikian rupa sehingga masing- masing berada di tulang iga  berikutnya
4.    Pasien diminta bernapas dalam dan kuat dan perhatikan gerakan jari- jari
Pada orang muda jari-jari akan terangkat mulai dari atas disusul oleh jari- jari dibawahnya secara berturut-turut seperti membuka kipas. Sedangkan pada orang tua semua jari-jari bergerak bersama-sama

7.  PALPASI GETARAN SUARA PARU ( FREMITUS RABA )

1.    Posisi pasien duduk untuk pemeriksaan dada depan dan posisi duduk kedua tangan dipaha atau dipinggang.
2.    Sedangkan  posisi pasien tidur  miring untuk pemeriksaan dada belakang sesuai dengan keadaan pasien. Pada posisi tidur terlentang / miring kedua tangan disamping dan sejajar dengan badan
3.    letakkan sisi ulnar tangan kanan pemeriksa di dada kiri pasien dan sebaliknya
4.    Minta pasien mengucapkan kata- kata seperti satu, dua, … dst berulang- ulang
5.    Pemeriksaan dilakukan mulai dari dada atas sampai dada bawah
6.    Perhatikan intensitas getaran suara dan bandingkan kanan dan kiri
Normal getaran kedua sisi sama, kecuali apeks kanan karena letaknya dekat dengan bronkus. Fremitus raba meningkat apabila terdapat konsolidasi paru, fibrosis paru selama bronkus masih tetap terbuka . Fremitus suara menurun bila ada cairan/ udara dalam  pleura dan sumbatan bronkus

C.  PERKUSI DADA

Tujuan untuk mengetahui batas, ukuran, posisi dan kualitas jaringan di dalamnya. Perkusi hanya menembus sedalam 5 – 7 cm, sehingga tidak dapat mendeteksi kelainan yang letaknya dalam. Lakukan perkusi secara sistimatis dari atas ke bawah dengan membandingkan kanan dan kiri.

1.  PERKUSI DADA DEPAN

1.    Posisi pasien duduk dengan kedua tangan dipaha atau dipinggang dan berhadapan dengan pemeriksa
2.    Lakukan perkusi secara dalam pada fossa supraklavikula kanan, kemudian lanjutkan kebagian dada kiri .
3.    selanjutnya lokasi perkusi  bergeser kebawah sekitar 2- 3 cm, Begitulah seterusnya kebawah sampai batas atas abdomen
4.    Mintalah pasien untuk mengangkat kedua lengan untuk melakukan perkusi aksila dari atas kebawah di kanan dan kiri
5.    Bandingkan getaran suara yang dihasilkan oleh perkusi
normal suara dada/ paru adalah sonor. Bila redup kemungkinan adanya tumor, cairan, sekret. Suara hipersonor akibat adanya udara dalam pleura.

2.  PERKUSI DADA BELAKANG

1.    Posisi pasien duduk dengan kedua tangan dipaha atau dipinggang dan membelakangi pemeriksa
2.    Lakukan perkusi secara dalam pada supraskapula dada belakang kanan, kemudian lanjutkan kebagian dada kiri .
3.    selanjutnya lokasi perkusi  bergeser kebawah sekitar 2- 3 cm, Begitulah seterusnya kebawah sampai batas atas abdomen
4.    Bandingkan suara yang dihasilkan oleh perkusi dada kanan dan kiri
Suara sonor paru kanan bila diperkusi kebawah akan lebih cepat menghilang , karena adanya keredupan hati.

3.  PERKUSI BATAS PARU DAN HATI

1.    Posisi pasien duduk dengan kedua tangan disamping tubuh dan berhadapan dengan pemeriksa .
2.    Lakukan perkusi pada dada kanan depan dari atas kebawah secara sistimatis.
3.    posisi pasien dirubah sehingga membelakangi pemeriksa, selanjutnya lakukan perkusi pada bagian dada  belakang dari atas kebawah secara sistimatis
4.    Pada daerah batas paru dan hati terjadi perubahan suara, dari sonor menjadi pekak/ redup. Normal batas paru bagian depan terletak antara kosta 5 dan 6, sedangkan paru bagian belakang setinggi prosesus spinosus vertebra torakalis 10 atau 11.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

December 2010
M T W T F S S
     
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Twitter Updates

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: